Rabu, 07 Desember 2011

Pelatihan Metodologi Penelitian Dosen FK UII






Dalam rangka meningkatkan pemahaman, penguasaan, dan penerapan metodologi penelitian, Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (FK UII) menyelenggarakan Pelatihan Metodologi Penelitian bagi para dosen pada tanggal 4 dan 5 April 2011 bertempat di Laboratorium Komputer FK UII.

Kegiatan ini diampu oleh para pakar di bidang penelitian kedokteran dengan berbagai topik yang berbeda, seperti dr. Bambang Udji Djoko Rianto, Sp.THT-KL yang menyampaikan tentang “Research Question”, Prof. Dr. dr. Barmawi Hisyam, Sp.PD (KP) yang membawakan tentang “Research in Clinical Setting”, dan dr. Andaru Dahesihdewi, Sp.PK (K) yang membahas tentang “Desain Penelitian” dan “Populasi, Sampel, dan Metode Pengumpulan Data”.

 
Dalam pelatihan ini, berbagi hal fundamental dalam penelitian dikupas habis guna meningkatkan pemahaman para peserta. Salah satunya adalah masalah pertanyaan penelitian atau research question yang merupakan dasar awal munculnya suatu penelitian. Menurut dr. Bambang Udji Djoko Rianto, Sp.THT-KL, sebuah penelitian yang baik akan lahir dari pertanyaan penelitian yang baik pula. “Untuk bisa disebut sebagai research question yang baik, maka harus memenuhi lima karakter, yaitu: fisibel, menarik peneliti, sesuatu yang baru, etis, dan relevan terhadap pengetahuan ilmiah, kebijakan klinik dan kesehatan, serta riset selanjutnya.” ujar dokter yang juga peneliti senior tersebut.

Melalui kegiatan ini diharapkan kedepannya akan semakin banyak penelitian yang dilakukan dan dihasilkan oleh para dosen di lingkup FK UII. Dengan demikian hal tersebut akan meningkatkan kualitas dan kredibilitas FK UII sebagai sebuah institusi pendidikan, sekaligus mendukung perkembangan ilmu pengetahuan.  

Jumat, 14 Oktober 2011

Training metode penelitian di pusHAM UII yogyakarta

Akpol bekerja sama dengan PusHAM UII Yogyakarta mengadakan acara training Gadik Akpol dari tanggal 17-19 maret 2010. Dalam sambutannya Bp Eko Prasetyo selaku Direktur Program PusHAM UII menyampaikan bahwa training ini adalah sebagai tindak lanjut dari training yang telah dilakukan pada bulan Januari 2010 dengan maksud untuk memberikan pembekalan kepada gadik akpol tentang metode penelitian karya ilmiah yang nantinya akan diterapkan di Akpol.




Sedangkan Brigjen Pol  Drs. Sabar Raharjo (Direktur Akademik Akpol ) mewakili Gubernur Akpol dalam sambutannya menyampaikan bahwa model pembelajaran di Akpol jangan asal "Pokoknya". Para gadik harus benar-benar faham dan mengerti tentang metode penelitian karya ilmiah dan diharapkan ilmu yang sudah didapat selama pelatihan diterapkan di kelas. Sehingga para taruna dapat menulis tugas akhir dengan benar dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

Dosen Ekonomi Pembangunan Pelajari Metode Penelitian Gabungan

penelitian merupakan salah satu tolak ukur untuk mengetahui kualitas sumber daya manusia dan instansi. Bagi mahasiswa, penelitian merupakan kewajiban sebagai persyaratan utama dalam menyelesaikan studi. Setiap mahasiswa yang akan melakukan penelitian dibimbing oleh seorang dosen yang dianggap memiliki kompetensi dibidang penelitian.
Menurut Dekan Fakuktas Ekonomi Drs S Martono MSi, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kompetensi dosen dalam melakukan penelitian dan membimbing mahasiswa yang akan melakukan penelitian.
“Saya berharap melalui forum diskusi ini, pengetahuan dan keterampilan dosen di FE khususnya di Jurusan Ekonomi Pembangunan semakin terasah sehingga mampu melakukan dan membimbing penelitian mahasiswa dengan menggunakan metodologi penelitian gabungan,” katanya ketika membuka diskusi di Hotel Belle View, Selasa (3/10). 
Diungkapkannya, selama ini penerapan metodologi penelitian kuantitatif  lebih  sering daripada metodologi kualitatif  dalam penyusunan skripsi bagi mahasiswa. Dan, penerapan metodologi gabungan menjadi sesuatu yang baru bagi dosen FE.
Forum diskusi  “Penggunaan Mixed Method dalam Kajian Ilmu-Ilmu Sosial” tersebut menghadirkan Prof Mudjahirin Thohir sebagai narasumber. 
Antropolog dari Fakultas Ilmu Budaya Undip itu mengatakan, jika seorang akan menggunakan metodologi gabungan, sebaiknya peneliti mengetahui kelebihan dan kekurangan dari tiap-tiap metodologi dalam meneliti suatu kasus. Dengan menggunakan mixed method, seorang peneliti mampu memperoleh data yang lebih beragam dan akurat.

Rabu, 12 Oktober 2011

METODE PENELITIAN

Bab IV ini menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan penelitian
meliputi: Lokasi Penelitian, Objek Penelitian, Unit Analisis, Identifikasi Variabel,
Definisi Operasional dan Pengukurannya, Populasi dan Sampel Penelitian,
Prosedur Pengumpulan dan Sumber Data, Teknik Analisis Data.

4.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada Usaha Menengah di kawasan industri
Kabupaten Sidoarjo. Alasan pemilihan lokasi tersebut dikarenakan daerah 
tersebut merupakan sentra industri yang banyak jumlahnya dan cukup berpotensi,
sehingga penelitian di wilayah ini diharapkan dapat mewakili gambaran usaha
menengah.
 
4.2. Objek Penelitian

Yang menjadi objek penelitian disini adalah informasi akuntansi,
khususnya tentang pengetahuan akuntansi, skala usaha, pengalaman usaha, dan
jenis usaha  pengaruhnya terhadap penggunaan informasi akuntansi dengan
moderating variable ketidakpastian lingkungan.

4.3. Unit Analisis

Unit yang dianalisis dalam penelitian ini adalah individu dari  pimpinan
atau pemilik usaha terhadap penggunaan informasi akuntansi. 

4.4. Identifikasi Variabel

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas
(independent variable),  variabel terikat (dependent variable) dan variabel
moderat (moderating variable).  
Y   = penggunaan informasi akuntansi 
X1 = pengetahuan akuntansi
X2 = skala usaha
X3 = pengalaman usaha
X4 = jenis usaha
Z   = ketidakpastian lingkungan

4.5. Definisi Operasional Variabel dan Pengukurannya

Definisi operasional perlu dilakukan untuk menghindari kesalahan dalam
mengartikan varaibel-variabel yang dianalisis, meliputi :

4.5.1. Penggunaan Informasi Akuntansi (Y)

Informasi akuntansi dalam penelitian ini didefinisikan sebagai informasi
statutori, informasi anggaran dan informasi tambahan yang dihasilkan dari proses
akuntansi yang digunakan sebagai dasar di dalam membuat keputusan.
Indikator variabel penggunaan informasi akuntansi terdiri dari 3, yaitu:
1. Informasi statutori 
Informasi statutori merupakan informasi akuntansi yang terdiri  dari Neraca,
Laporan Laba/Rugi dan Arus Kas
2. Informasi anggaran
Informasi anggaran merupakan informasi akuntansi yang terdiri dari informasi
proyeksi Laba Rugi dan proyeksi Arus Kas.
3. Informasi tambahan
Informasi tamabahan terdiri dari informasi laporan Harga Pokok Produksi dan
Rasio Keuangan 
(Holmes dan Nicholls, 1989).
Dari ketiga indikator tersebut kemudian dibuat  beberapa pertanyaan. Pada
penelitian ini dikembangkan dengan dua penilaian yaitu berdasarkan tingkat
kepentingan dan berdasarkan banyaknya penggunaan. Kemudian dari dua model
informasi tersebut dibuat rata-rata tertimbang (weighted average).
Pengukuran penggunaan informasi akuntansi pada penelitian ini dilakukan
dengan menggunakan skala likert lima point.

4.5.2. Pengetahuan Akuntansi (X1)

Peneliti seringkali menggunakan teori rasional dalam mendefinisikan
pengetahuan akuntansi. Pengetahuan akuntansi dalam penelitian disini adalah
pengetahuan dari pimpinan atau pemilik usaha tentang akuntansi.
Indikator pengetahuan akuntansi   menggunakan dua dimensi  pengukuran
yang biasanya digunakan dalam kajian audit (Spliker, 1995; Bonner dan Walker,
1994), yaitu :
1. Pengetahuan deklaratif 

merupakan pengetahuan tentang fakta-fakta dan berdasarkan konsep,
contohnya: kas adalah bagian dari  current assets;  pengetahuan ini
memudahkan dalam analisis rasio. Dimana pengetahuan deklaratif  biasanya
tergantung dari instruksi yang ada.

2. Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan yang konsisten dengan

aturan-aturan atau standar akuntansi yang berlaku (Bonner dan Walker, 1994;
Spilker, 1995)., biasanya tergantung pada pengalaman.
Variabel ini diukur dengan menggunakan daftar pertanyaan yang terdiri  dari  4
pertanyaan yang berkenaan dengan pengetahuan deklaratif dan 4 pertanyaan untuk
pengetahuan prosedural. Instrumen ini telah dimodifikasi disesuaikan dengan
tingkat pertanyaan yang dibuat. Jawaban atas pertanyaan ini didesain dengan
menggunakan 5 skala likert  (Indriantoro, 2000).

4.5.3. Skala Usaha (X2)

Perkembangan perusahaan selalu diharapkan oleh pemilik yang berakibat
pada skala perusahaan. Perubahan perkembangan perusahaan ini juga dapat dilihat
dari perubahan asset yang dimilikinya dari tahun ke tahun, antara lain dari jumlah
karyawan yang terus meningkat jumlahnya. Hal ini tentunya disebabkan dari
kemajuan yang diperoleh perusahaan yang sangat membutuhkan jumlah karyawan
yang lebih besar, terutama bagi perusahaan skala menengah seiring  dengan
bertambahnya aktivitas perusahaan dan semakin besarnya tingkat  kompleksitas
perusahaan, sehingga informasi akuntansi sangat dibutuhkan.  (Nicholls dan
Holmes, 2001 : 61).
Skala usaha dalam penelitian ini didasarkan pada data yang diperoleh dari
Dinas Perindustrian dan Perdagangan yaitu didasarkan pada jumlah karyawan
yang dipekerjakan di perusahaan skala menengah. Instrumen dalam penelitian ini
diukur dengn mnggunakan skala nominal.

4.5.4. Pengalaman Usaha(X3)

Pengalaman berusaha memperoleh banyak pembelajaran tentang informasi
apa yang dibutuhkan dan disiapkan serta digunakan dalam pengambilan
keputusan. Manajemen perusahaan akan membutuhkan informasi yang lebih
banyak akan disiapkan dan digunakan dalam pengambilan keputusan apabila
tingkat kompleksitas usaha serta persaingan semakin ketat.
Pengalaman dalam operasional berusaha berdasarkan pada bisnis yang
sudah dijalankan. Hal ini akan mengindikasikan kebutuhan akan informasi
akuntansi sangat diperlukan (Nicholls dan Holmes, 1988).
Masa mengelola perusahaan diukur mulai dari manajer atau pemilik usaha
mengelola atau memimpin perusahaan sampai penelitian ini dilakukan.

4.5.5. Jenis usaha (X4)

Jenis usaha mempunyai pengaruh terhadap persiapan dan penggunaan
informasi akuntansi (Holmes dan Nicholls, 1988).
Holmes dan Nicholls (1988) mengelompokkan tujuh jenis usaha dan
memperlihatkan bahwa informasi akuntansi tambahan merupakan informasi yang 
relatif besar digunakan pada jenis usaha, dibandingkan dengan sektor yang  lain.
Pengukuran jenis usaha bersifat kategorikal sesuai dengan jenis usaha yang
diteliti, yaitu berdasarkan skala nominal. 
Penelitian ini dilakukan pada jenis usaha dan perdagangan sesuai dengan
data yang diperoleh dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten
Sidoarjo dan diukur dengan menggunakan skala nominal.

4.5.6. Ketidakpastian Lingkungan (Z)

Ketidakpastian lingkungan dapat diartikan sebagai rasa ketidakmampuan
individu dalam memprediksi lingkungannya secara tepat (Miliken, 1987) dan
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan perusahaan
perusahaan (Al-Shaikh, 1998; Gaskill et al., 1993; Ibrahim & Goodwin, 1986).
Pengukuran variabel atau indikator yang digunakan untuk menggambarkan
kondisi ketidakpastian lingkungan akan dilakukan dengan menggunakan
pertanyaan yang dikembangkan Miliken (1987) dan Fisher (1996), yang telah
dimodifikasi. Pengukuran dilakukan dengan menilai sejauhmana responden dapat
memprediksi ketidakpastian lingkungan bisnis yang dihadapi mereka. Semakin
tinggi kemampuan dalam memprediksi, maka berarti semakin rendah  tingkat
ketidakpastian lingkungan bisnis yang dihadapi. 
Indikator tersebut meliputi :

1. Informasi yang berkaitan dengan kondisi usaha di masa yang akan datang
2. Informasi tentang pengaruh faktor-faktor eksternal, seperti kondisi ekonomi,
teknologi, dan lain-lain.
3. Informasi non ekonomi, seperti peraturan pemerintah,  persaingan usaha,
peluang pasar, prediksi harga, dan lain-lain                 

Instrumen ini telah dimodifikasi disesuaikan dengan tingkat pertanyaan yang
dibuat. Jawaban atas pertanyaan ini didesain dengan menggunakan 5 skala likert 
(Indriantoro, 2000).

4.6.Populasi dan Sampel Penelitian

4.6.1. Populasi Penelitian

Jumlah industri yang ada di Kabupaten Sidoarjo sebanyak 446 buah dan
usaha perdagangan yang ada di Kabupaten Sidoarjo menurut bentuk usaha
sebanyak 1.428 buah.  Populasi yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu
pimpinan atau pemilik  usaha (industri dan perdagangan) di kawasan industri 
Kabupaten Sidoarjo.




4.6.2. Sampel Penelitian

Sampel yang diambil dari populasi yang ada dilakukan  secara  Simple
Random Sampling (acak), dengan menggunakan tingkat kesalahan 5%, dari daftar
pengambilan sampel yang dianggap representatif menurut Isaac dan Michael
(Sugiono, 2003 : 99). Prinsip pemilihan sampel dalam desain ini adalah  setiap
elemen dalam populasi mempunyai kesempatan  yang sama untuk dipilih
(Kuncoro, 2003 : 112). 
   Pengambilan sampel dalam penelitian ini yang dianggap representatif
(mewakili)  adalah usaha menengah di Kabupaten Sidoarjo yang sudah memiliki
legalitas usaha menurut Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sidoarjo
dan sudah menyusun  laporan keuangan.

4.7. Prosedur Pengumpulan Data dan Sumber Data

4.7.1. Prosedur Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan melakukan
survey lapangan. 

1.Kuesioner

Data dikumpulkan dengan cara melakukan penyebaran kuesioner secara
langsung ke responden yang menjadi sampel penelitian. Hal ini dilakukan
bertujuan untuk memperoleh data berupa jawaban-jawaban dari para
responden (Kuncoro, 2003 : 155).

2. Wawancara

Metode pengumpulan data disamping dengan menyebarkan kuesioner            
seperti yang dijelaskan di atas, juga dilakukan dengan wawancara secara
langsung dengan responden yang menunjang penelitian, hal ini dilakukan
dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang relevan (Kuncoro, 2003 :
139), seperti Kasubdin Perindustrian Kabupaten Sidoarjo, Kasubdin UKM
Kabupaten Sidoarjo, dan pimpinan  atau pemilik usaha menengah Kabupaten
Sidoarjo.

4.7.2. Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data
sekunder.

1.Data Primer

Data primer adalah data yang dikumpulkan  dan disatukan secara
langsung dari obyek yang diteliti untuk kepentingan penelitian (Suparmoko, 
1999 : 67).
Data primer dari penelitian ini berasal dari responden seperti jawaban
atas daftar pertanyaan yang peneliti berikan pada pimpinan  atau pemilik
perusahaan yang bersangkutan,  berupa data yang berkaitan dengan variabelvariabel yang akan diteliti, yaitu tentang pengetahuan akuntansi, skala usaha,
pengalaman usaha,  jenis usaha, penggunaan informasi akuntansi serta
ketidakpastian lingkungan yang dirasakan oleh pimpinan atau pemilik usaha
menengah Kabupaten Sidoarjo.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang dikumpulkan oleh studi-studi
sebelumnya atau yang diterbitkan oleh berbagai instansi-instansi  lain yang
sudah dipublikasikan atau memanfaatkan data yang sudah ada (Suparmoko,
1999 : 67).
Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari
Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sidoarjo, Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Kabupaten Sidoarjo, dan Badan Pusat Statistik Kabupaten
Sidoarjo.
4.8. Teknik Analisis Data 

4.8.1. Pengujian Validitas

Pengujian validitas instrumen-instrumen penelitian dimaksudkan untuk
mendapatkan data yang valid. Data penelitian yang telah terkumpul dari instrumen
penelitian yang disebar kemudian diuji validitasnya dengan analisis faktor. Suatu
variabel dikatakan valid menurut Hair et.al, 1995 (Armono, 2004) apabila
memiliki  loading factor sebesar lebih dari atau sama dengan 0,40. Uji validitas
item-item pertanyaan yang mewakili: pengetahuan akuntansi, skala  usaha,
pengalaman usaha, jenis usaha dan  ketidakpastian lingkungan.

4.8.2. Pengujian Realibilitas

Untuk menguji realibilitas atau konsistensi instrumen dalam pengukuran
variabel-variabel penelitian digunakan pengujian  Cronbach Alpha. Pertanyaan
yang mempunyai Cronbach Alpha lebih dari 0,6 dikatakan suatu instrumen yang
reliable (Darlis, 2002).

4.8.3. Uji Asumsi Klasik

Agar penggunaan analisis regresi berganda ini tidak bias perlu di tes agar
tidak terjadi pelanggaran terhadap asumsi tersebut yang disebut dengan uji asumsi
klasik yang terdiri dari :

4.8.3.1. Uji Normalitas Data

Uji ini dilakukan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi,
variabel bebas dan variabel terikat mempunyai distribusi normal atau tidak. Model
regresi yang baik memiliki distribusi data normal atau mendekati normal uji
normalitas data dilakukan dengan Kolmogorov Smirnov Test, dengan ketentuan
bila signifikan hitung > 0,05; data distribusi normal demikian sebaliknya bila
signifikan < 0,05 data tidak berdistribusi normal.

4.8.3.2. Uji Autokorelasi

Dalam penelitian ini untuk mendeteksi ada atau tidaknya  autokorelasi
dengan menggunakan uji  Durbin-Watson, Menurut Sulaiman (2002 : 156)
kriterianya adalah sebagai berikut :
Jika 1,65 < DW < 2,35 berarti tidak ada autokorelasi
Jika 1,21 < DW < 1,65 atau 2,35 < DW < 2,79 berarti tidak dapat
disimpulkan
Jika DW < 1,21 atau DW > 2,79 berarti ada autokorelasi

4.8.3.3. Uji Multikollinieritas

Menurut Suharyadi et al (2004 : 528)  multikollinieritas adalah adanya
lebih dari satu hubungan linier yang sempurna (koefisien korelasi = 1), hubungan
ini tidak diperkenankan. Dalam analisis regresi antara varaibel independen yang
satu dengan variabel independen yang lain dalam model regresi tidak saling
berhubungan secara sempurna atau mendekati sempurna. Untuk menguji apakah
model regresi tersebut mengandung gejala  multikollinieritas ditentukan
berdasarkan perhitungan Variance Inflation Factor atau VIF. Apabila VIF lebih
kecil dari 10 berarti tidak ada multikollinieritas.

4.8.3.4. Uji Heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas terjadi apabila varian komponen pengganggu dari
masing-masing variabel bebas semakin besar, yang berarti bahwa  varian
penaksiran tidak efisien dan uji hipotesis kurang valid. Dengan kata lain apabila
didalam suatu model terdapat heteroskedastisitas maka  berarti terjadi hubungan
antara varaibel pengganggu dengan variabel bebas sehingga model tersebut tidak
efisien digunakan sebagai alat estimasi baik dalam sampel besar maupun kecil.
Untuk menguji ada tidaknya  heteroskedastisitas dalam model regresi digunakan
grafik Scatterplot. Apabila terlihat titik-titik menyebar secara acak serta  tersebar
baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y, berarti ada
heteroskedastisitas dalam model regresi.

4.8.4. Analisis Regresi

1.Hipotesis Pertama

Teknik analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis pertama (1) dalam
penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis regresi berganda
(Sugiono, 2005)
Y = a + b1x1 + b2x2 + b3x3 + b4x4 + e
Di mana : 45
Y  = penggunaan informasi akunatnsi 
a   = konstanta
b1 = koefisien regresi x1
b2 = koefisien regresi x2
b3 = koefisien regresi x3
b4 = koefisien regresi x4
x1 = pengetahuan akuntansi
x2 = skala usaha
x3 = pengalaman usaha 
x4 = jenis usaha
e = faktor kesalahan (error)

2. Hipotesis Kedua

Teknik aanalisis yang dipergunakan untuk menguji hipotesis dua (2) adalah
metode statistik regresi interaksi atau Moderate Regression Analysis (MRA)
yang merupakan pengembangan dari analisis regresi berganda seperti
persamaan berikut :
  Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5Z + b6X1Z+  b7X2Z + b8X3Z+  b9X4Z + e
Z  = ketidakpastian lingkungan
a  = konstanta
b1 = koefisien regresi x1
b2 = koefisien regresi x2
b3 = koefisien regresi x3 46
b4 = koefisien regresi x4
x1 = pengetahuan akuntansi
x2 = skala usaha
x3 = pengalaman usaha 
x4 = jenis usaha
xZ = interaksi pengetahuan akuntansi, skala usaha, pengalaman usaha dan
jenis usaha dengan ketidakpastian lingkungan
e = faktor kesalahan (error)

4.8.5. Uji Hipotesis

4.8.5.1. Uji t

Uji t digunakan untuk menguji signifikan secara parsial pengaruh variabel
independen terhadap variabel dependen dalam model regresi yang sudah 
dihasilkan. Dalam penelitian ini digunakan tingkat signifikan 5%  (α = 0,05).
Kriteria pengujian uji t adalah sebagai berikut:
Ho ditolak jika Sig thitung < α (tingkat signifikan yang digunakan)
Ho diterima jika Sig thitung > α (tingkat signifikan yang digunakan)

4.8.5.2. Uji F
Uji F  digunakan untuk mengetahui tingkat signifikansi pengaruh variabel
independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Kriteria pengujian
uji F adalah sebagai berikut:

Apabila nilai signifikan Fhitung lebih rendah dibandingkan dengan  alpha yang
digunakan (5%) maka dapat dikaatkan bahwa secara bersama-sama variasi
variabel independen dapat menjelaskan variasi variabel dependen dalam model
yang digunakan, demikian juga sebaliknya, apabila Fhitung  lebih besar dari alpha
yang digunakan (5%).
Ho ditolak jika Sig Fhitung < α (tingkat signifikan yang digunakan)
Ho diterima jika Sig Fhitung > α (tingkat signifikan yang digunakan)
Tingkat signifikan yang digunakan dalam analisis adalah 0,05 (5%).
4.8.5.3. Koefisien Determinasi (R
2
 (
Koefisien determinasi (R
2
) pada intinya mengukur seberapa jauh 
kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat. Nilai koefisien
determinasi adalah di antara nol dan satu. Nilai R
2
 yang kecil berarti kemampuan
variabel-variabel independen dalam menjelaskan variabel-variabel dependen amat
terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen
memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi
variabel-variabel dependen (Kuncoro, 2003 : 220).
Menurut  Lind (Suharyadi, 2004 : 515) menyatakan variabel bebas dapat
menjelaskan variabel tidak bebas.
 Bila R
2
 > 0,5 dikatakan baik atau akurat
 Bila R
2
 = 0,5 dikatakan sedang
 Bila R
2
 > 0,5 dikatakan kurang 48
Untuk mempermudah menganalisis dan menguji hipotesis yang diajukan,
maka data-data yang  dikumpulkan diolah dengan menggunakan bantuan 
komputer dengan program SPSS versi 11 for Windows.
catatan ; ini adalah salah satu hasil dari metodologi penelitian dari berjuta hasil penelitian yang telah di temukan